Stats

Artikel Islam

Situs tempatnya belajar Islam, panduan lengkap melaksanakan Syariat Agama Islam.

Belajar Islam

www.artikelislam.org merupakan salah satu situs tempat belajar tentang Agama Islam dari dasar, didukung oleh para penulis yang terpercaya.

Diskusi Islam

Kami juga melayani diskusi tentang Islam, dimana hasilnya Insya Allah akan kami terbitkan dalam bentuk artikel.

Belajar Al-Qur'an

Anda bisa memanfaatkan situs artikelislam.org untuk belajar Al-Qur'an secara gratis, dimana kami menyediakan file Al-Qur'an lengkap yang dibacakan oleh para Qori bertaraf Internasional seperti KH. Muamamar ZA, Ustadz Abdul Azis Ali, dan lain-lain dengan file bacaan al-Qur'an yang boleh Anda download secara gratis dari situs artikelislam.org

Koleksi Khutbah Jum'at pilihan

Koleksi Khutbah Jum'at pilihan boleh Anda download dari situs artikelislam.org.

Kisah Islam

Kisah-kisah Islam kami sediakan untuk Anda.

Artikel-artikel tentang Shalat

Artikel-artikel tentang Shalat kami sediakan untuk Anda.

Artikel-artikel tentang Zakat

Artikel-artikel tentang Zakat kami sediakan untuk Anda.

Artikel-artikel tentang Puasa

Artikel-artikel tentang Puasa kami sediakan untuk Anda.

Artikel-artikel tentang Hajji

Artikel-artikel tentang Hajji kami sediakan untuk Anda.

Thursday, August 16, 2012

Jadwal Sidang Isbat Lebaran 1433 H

Menteri Agama Suryadharma Ali menyatakan, sidang isbat penentuan Idul Fitri 1 Syawal 1433 H dijadwalkan digelar pada Sabtu sore tanggal 18 Agustus 2012. Menurut Sekjen Kementerian Agama Bahrul Hayat, pelaksanaan sidang isbat pada Sabtu (18/8) sore didasarkan pada perhitungan hisyab bahwa pada saat itu hilal sudah di atas nol derajat. Pihak Kemenag akan memperhitungkan 1 Syawal dan Idul Fitri berdasarkan hisyab dan rukyat.

Lebaran atau Idul Fitri, ujarnya, diperkirakan akan jatuh pada Minggu (19/8). Seluruh organisasi kemasyarakatan akan diundang untuk menghadiri sidang tersebut, termasuk Muhammadiyah yang pada sidang Isbat penentuan awal Ramadan lalu tidak hadir.

Pelaksanaan sidang akan digelar terbuka sebagaimana disarankan salah satu ormas Islam saat sidang isbat penentuan awal Ramadan. Sidang ini tetap akan digelar secara terbuka di Kantor Kementerian Agama Thamrin, sehingga semua masyarakat bisa melihat secara langsung proses perjalanan sidang. Sidang itu juga akan dihadiri kalangan Badan Hisyab dan Rukyat.

Wednesday, April 4, 2012

Tirulah Sifat Jujurnya Abu Bakar

JUJUR adalah sifat terpuji. Secara naluri, semua orang suka kejujuran. Namun, secara aplikasi, tidak semua orang bisa berlaku jujur. Orang yang berbusa-busa menyuarakan kejujuran, belum tentu berperilaku jujur. Kenapa? Karena jujur tidak cukup ditimbang dengan apa yang diucapkan di lisan seseorang saja. Menyerukan kejujuran harus butuh bukti dalam kehidupan nyata.

Selain itu, menjadikan jujur sebagai karakter yang mengakar di hati, juga menjadi syarat akan kebenaran kejujuran seseorang. Belum bisa disebut orang jujur, manakala tiga komponen ini, hati, lisan, dan perbuatan, belum bersatu-padu dalam diri seseorang, atau dengan bahasa lain masih parsial, dekotomi.

Terkadang ada orang yang jujur hatinya saja, namun lisannya belum mampu mengucapkannya. Atau, lisannya yang mampu berkata jujur, tapi perbuatannya belum bisa membenarkannya. Ada pula, sekedar perbuatannya yang sepertinya melakukan kejujuran, tapi hati dan lisannya mengingkari itu semua.

Tentu perilaku macam ini, yang memisahkan antar komponen tersebut tidak dibenarkan dalam konsep kejujuran. Dan realitas di lapangan, khususnya di negeri kita, justru mala praktek macam ini yang malah menyeruak di tengah-tengah lapisan masyarakat, baik itu rakyat jelata, atau pun para pemimpinnya. Mulai dari pengusaha, hingga bawahan-bawahannya.

Sebagai contoh. Setiap para pejabat disumpah, mereka selalu berjanji dangan sumpah dengan ditandai meletakkan kitab suci masing-masing di atas kepala mereka. Apakah kemudian mereka juga jujur? Buktinya tidak juga. Justru terkadang, di kemudian hari terbongkar tindak pidana korupsinya.

Seorang pelajar (siswa/mahasiswa) yang hampir setiap saat dididik untuk menjadi pribadi yang jujur, namun masih banyak juga ketika ujian mereka menyontek.

Fenomena di atas setidaknya sebagai cermin, bahwa praktek kejujuran belum seutuhnya teraplikasi dalam sebagian besar masyarakat kita dengan benar. Sikap ini terjadi di semua lini di antara kita. Karyawan marketing memark-up kwitansi, sopir memark-up bensin, petugas jalanan “mengutip” pungutan, jaksa, hakim dan petugas hukum juga masih menerima suap. Bahkan orang antri ingin masuk PNS dengan suap. Pegawai korupsi waktu. Semua lini selalu ada korupsi.

Padahal Rosulullah pernah mengatakan, “As-shidqu yahdii ila al-birri” (Kejujuran itu mengarahkan ke pada kebaikkan).

Kisah Abu Bakar

Dalam sejarah, terdapat salah satu sosok manusia yang mampu menampilkan kejujuran yang benar, selain Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) adalah Abu Bakr. Dia merupakan sahabat yang pertama yang beriman ke pada Nabi dari golongan laki-laki dewasa.

Kejujurannya telah teruji semenjak awal dia masuk Islam. Hal tersebut terbukti -salah satunya- di tengah-tengah kaum Quraisy mengingkari dan bahkan menghina Nabi dengan peristiwa Isra’ dan Mi’raj, Abu Bakr justru menjadi orang pertama yang meyakini kebenaran hal tersebut.

Bahkan, dia berani menantang kaum kafir, bahwa kalau saja ada berita yang lebih dahsyat dari peristiwa Isra’ dan Mi’raj, maka dia akan mempercayai hal tersebut tanpa sedikitpun meragukannya.

Kejujuran Abu Bakr ini, kemudian terwujud dengan tindakan nyata. Dia tidak pernah meragukan akan apa yang telah menjadi janji Allah dan Rosul-Nya. Dan hal itu setidaknya tergambar dengan keberaniannya menyerahkan kepada Nabi seluruh harta bendanya demi memperjuangkan kejayaan Islam pada suatu peperangan.

“Aku tinggalkan mereka Allah dan Rosul-Nya”. Hanya kalimat singkat ini lah yang terlontar dari lisan Abu Bakr, ketika Rosulullah bertanya tentang apa yang dia sisakan untuk keluarganya, kalau semua kekayaannya dia serahkan fii sabilillah.

Karena kejujurannya ini, yang telah menjadi gaya hidupnya, beliau pun mendapat julukan sebagai As-Shiddiq (orang yang membenarkan). Tidak itu saja, jaminan ‘tiket’ masuk surga secara langsung, pun telah beliau genggam dari Rosulullah. Allahu Akbar !!!.

Lain Abu Bakr, lain pula Abu Tholib. Beliau adalah orang jujur, yang meyakini akan kebenaran ajaran Rosulullah. Selain itu, beliau pun membuktikan akan kejujuran hatinya dengan tindakannya yang selalu melindungi perjalanan dakwah Rosulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم). Sayang hanya karena kurang satu dimensi saja, pengucapan (lisan), perilaku jujur itu pun ‘mandul’, tidak menghasilkan apa-apa di sisi Allah. Dia pun akhirnya mati dalam kekafiran yang tempat kembalinya adalah neraka.
Apa lagi dengan sosoknya Abu Lahab. Secara naluri (Baca: hati) beliau mengakui akan kebenaran risalah Nabi Muhammad Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم). Namun, karena lisannya dan tindakkannya berpaling dari keyakinan hatinya, maka dia pun mati dalam keadaan kafir pula, dan tempat kembalinya adalah neraka.

Dari sini kita bisa mengambil benang merah, bahwa seyogyanya kita mengikuti jejak Abu Bakar dalam mempraktekkan kejujuran kita dalam segala aspek kehidupan. kita harus meyakini bahwa sesuatu yang benar itu adalah benar, tanpa diiringi keraduan sedikitpun. Dan suatu yang salah itu adalah salah. Tidak cukup itu saja, tindakkan kita pun harus menunjukkan hal tersebut, dan terakhir kita pun harus berani mensuarakannya ke pada khalayak umum.

Sebaliknya, jangan sampai kita berperilaku jujur dengan kejujuran ala Abu Thalib, lebih-lebih Abu Lahab. Sungguh perilaku macam ini sama sekali tidak akan membawa keuntungan sedikit pun bagi kita di dunia lebih-lebih di akhirat kelak. Kerana itu kita harus menjauhinya.

Pintu kemunafikan

Lawan dari pada jujur adalah dusta. Dan sampai kapanpun dua hal ini tidak akan pernah bersinergi. Barangsiapa yang berperilaku jujur, maka pasti dia akan menjauhi sifat dusta. Begitu pula sebaliknya, barang siapa yang suka berdusta, maka secara otomatis dia akan memusuhi kejujuran.

Karena demikian, tidak jarang orang yang berperilaku jujur harus menghadapi resiko yang tidak kecil, terlebih jikalau dia hidup di tengah masyarakat yang telah menjadikan dusta sebagai strategi ilegal dalam meraih sesuatu, sebagaimana yang terjadi di negeri kita saat ini.

Sekali pun demikian, kita tidak boleh getir. Perinsip ‘Qul al-Haqqa wa lau kaana murran’ (katakan lah sebenarnya meskipun pahit), harus menjadi prinsip kita.

Biasanya, dusta atau kebohongan dilakukan seseorang untuk berbagai tujuan; misalnya untuk memperoleh keuntungan materi secara tidak fair, untuk membuat kesal atau mencelakakan orang lain, dan adakalanya untuk menutupi kebohongan yang lain.

Implikasi dari kebohongan juga berbeda-beda. Jika kebohongan itu pada hal yang bersifat informasi, implikasinya bisa menyesatkan atau mencelakakan orang lain. Jika kebohongannya pada janji, maka implikasinya pada mengecewakan atau merugikan orang lain. Jika kebohongannya pada sumpah maka implikasinya pada merugikan dan mencelakakan orang lain.

Nabi bersabda; “Sesunggguhnya kebohongan adalah satu di antara beberapa pintu kemunafikan, innal kizba babun min abwab an nifaq.”

Jadi orang yang melakukan kebohongan dan dusta berarti sedang berada dalam proses menjadi seorang munafik. Kata Nabi, tanda-tanda orang munafik itu ada tiga; (1) jika berkata, ia berdusta, (2) jika berjanji, ia ingkar dan (3) jika diberi kepercayaan, ia berkhianat.

Jika kebohongan dan dusta merupakan pintu kemunafikan, maka kejujuran merupakan pintu amanah. Sebagai contoh, Nabi memiliki sifat siddiq (benar dan jujur), maka sifat lain yang menyertainya adalah amanah (tanggungjawab), fathanah (cerdas) dan tabligh (menyampaikan secara terbuka apa yang mesti disampaikan).

Kebalikannya, dusta (kizib) akan diiringi oleh sifat curang (khiyanah), bodoh, yakni melakukan perbuatan bodoh (jahil) dan menyembunyikan apa yang semestinya disampaikan secara terbuka (kitman).

Rasulullah mengatakan, "Seorang mukmin memiliki tabiat atas segala sifat aib, kecuali khianat dan dusta." (HR. Al Baazaar)

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud r.a, dari Nabi Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) bersabda: "Hendaklah kalian bersikap jujur karena kejujuran akan membawa kepada kebaikan dan kebaikan dapat mengantarkan ke surga. Sesungguhnya seseorang senantiasa jujur sehingga ditulis sebagai seorang yang jujur. Dan sesungguhnya dusta dapat menyeret kepada kejahatan dan kejahatan dapat menyeret ke dalam neraka. Sesungguhnya seseorang senantiasa berdusta hingga ditulis di sisi Allah sebagai pendusta." (HR Bukhari [6094]). Mudah-mudahan kejujuran kita membawa ke surga yang dijanjikan.

Tebarlah Kebaikan, Perangi Kebatilan!

RASULULLAH Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) pernah mengingatkan kita, "Kamu kini jelas atas petunjuk dari Rabbmu, menyuruh kepada yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar dan berjihad di jalan Allah." Kemudian Rasulullah melanjutkan, "Kemudian muncul di kalangan kamu dua hal yang memabukkan, yaitu kemewahan hidup (lupa diri) dan kebodohan. Kamu beralih ke situ dan berjangkit di kalangan kamu cinta dunia. Kalau terjadi yang demikian kamu tidak akan lagi beramar ma’ruf nahi munkar dan berjihad di jalan Allah. Di kala itu yang menegakkan al-Qur'an dan sunnah, baik dengan sembunyi maupun terang-terangan tergolong orang-orang terdahulu dan yang pertama-tama masuk Islam." (HR. Al-Hakim dan At-Tirmidzi).

Dalam sejarahnya, para dai dan muballigh sejati adalah mereka yang kehidupannya sangat sederhana. Identitas utamanya, jauh dari kemewahan dan gemerlapnya hidup.

Amar ma’ruf nahi munkar dan berjihad di jalan Allah merupakan tugas keummatan yang sangat mulia. Al-Quran mengatakan;

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang maUruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung." (Ali-Imran: 104)

Menegakkan kebenaran dalam konteks ini berarti harus disertai dengan mencegah tindakan munkar. Demikian sebaliknya, bila kebenaran telah tegak maka kita dituntut memberantas kemungkaran. Sekecil apapun kebenaran yang sudah mulai berkecambah dalam jiwa, maka segeralah diekspor ke alam sekelilingnya. Agar dia tumbuh lebih besar, berkecambah dan menjadi semarak. Pada proses itu berarti ada terdapat pertarungan antara dua kutub kejahatan dengan kebaikan, al-Haq dan al-Batil, hukum Tuhan versus hukum syetan.

Pada kenyataannya tugas ini amat sangat luar biasa berat. Seiring dengan arus materialisme yang kian merajalela, jumlah orang-orang yang memiliki rasa tanggung jawab turut menegakkan dakwah Islam semakin menyusut. Tugas dakwah menjadi pilihan nomor sekian.

Tugas misi ini memang menuntut banyak pengorbanan, perjuangan yang tak kenal lelah, mental yang kuat, jiwa yang kokoh, kesabaran yang ekstra, tahan terhadap gunjingan, siksaan, cemoohan dan berbagai ujian penderitaan lahir-bathin yang lain.

Dalam catatan sejarahnya, para dai dan muballigh sejati adalah mereka yang kehidupannya sangat sederhana. Identitas utamanya, jauh dari kemewahan dan gemerlapnya hidup. Mereka memilih demikian bukan karena tidak menyukainya, akan tetapi untuk selalu menjaga kebersihan dirinya dan cita-citanya. Agar selalu murni dan tidak tergelincir oleh bujuk rayu syetan yang sangat halus dan setia mengintainya setiap waktu.

Kalaupun ada peluang untuk menjadi kaya, mereka tidak secara rakus memanfaatkannya. Bahkan Imam Malik rela dipenjara dan disiksa oleh Penguasa karena penolakannya ditunjuk menjadi hakim. Padahal tugas sebagai hakim tidak sedikit menjanjikan uang dan harta benda. Posisi pada jabatan ini memungkinkan orang bisa dengan mudah meraup kekayaan.

Sebaliknya, dari jaman ke jaman kecintaan kepada harta benda semakin merajalela. Misalnya, pada pilihan pendidikan. Berapa banyak dari remaja kita yang berjuta-juta itu memilih spesialisasi sekolahnya disertai niatan menegakkan agama Allah di masyarakatnya? Berapa banyak dari remaja kita yang dari waktu ke waktu dalam jam belajarnya menetapkan keprihatinan hatinya? Media massa kita juga rupanya ikut membangun masyarakat materialistik dengan muatan-muatannya yang lebih banyak menumpulkan hati nurani manusia. Banyak media bukan menjadikan masyarakat lebih beriman, bahkan semakin jauh dari agama dan keyakinannya.

Seiring dengan itu generasi kita terus dibujuk dan dirayu untuk masuk ke dalam kehidupan hedonis. Kehidupan yang sebenarnya membuat renggang hubungan kekerabatan, silaturrahmi, bersaudaraan, penuh ego dan kehilangan kehalusan-kehalusan jiwa. TV, film dan sinetron kita mengajarkan hura-hura, kebebasan hidup dan dendam.

Pada akhirnya, tatanan baru di era Pasar Bebas ini, akhirnya hanya ingin menciptakan komunitas kehidupan masyarakat yang berkarakter ugal-ugalan. Masyarakat yang diinginkannya adalah masyarakat seperti yang kita saksikan di Barat yang serba bebas, pesat secara lahiriyah tetapi bobrok dan hancur nilai moral-kemanusiaannya.

Masyarakat Indonesia akan digiring ke sana agar kehilangan identitasnya sebagai muslim sejati. Orang lain yang akan mencapkan identitas baru di kening kita. Bukan kita sendiri yang membangun jiwa raga dan akal budi kita.

Semakin banyaknya orang yang mengalami stres, putus asa, lemah harapan, dan bahkan sampai pada maraknya bunuh diri belakangan merupakan dampak dari cara pandang yang salah itu. Ketika dollar dan rupiah sudah diagungkan, harta dan hajatan hidup diutamakan, akan tetapi berbarengan dengan itu semuanya hilang dibalik bumi alias tidak diperoleh, maka yang muncul adalah kekecewaan. Kekecewaan yang berhari-berminggu dan berbulan dan entah sampai kapan akan berakhir ini, akan memunculkan manusia-manusia berputus asa. Sebagaimana janji Allah sendiri.

وَلَنُذِيقَنَّهُمْ مِنَ الْعَذَابِ الْأَدْنَى دُونَ الْعَذَابِ الْأَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Dan Sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS: As Sajdah: 21)

Saham utama yang bisa kita tanamkan, agar segala keadaan ini tidak menggiring terus generasi di bawah kita ke jurang kesalahan, ialah tidak pernah berhenti beramar ma’ruf nahi munkar. Ayo kita mulai, paling tidak dari diri kita, keluarga kita, tetangga, kantor kita dan lingkungan sekitar.

Tuesday, March 20, 2012

Kiat dan Cara Mengatasi Ambisi Terhadap Kekuasaan dan Jabatan

Pertama. Di dalamnya banyak terdapat peringatan terhadap tindakan-tindakan mencalonkan diri untuk sebuah kekuasaan dan mengecam sikap keterkaitan hati dengan posisi kepemimpinan.

Kedua. Selalu mengingat beban yang harus dipikul oleh seorang pemimpin, baik di dunia maupun akhirat.

Salah satu fitrah manusia yakni mudah lupa, dan tidak dapat teratasi kecuali dengan diingatkan.

Firman Allah Ta'ala :

"Dan tetaplah memberi peringatan, karena peringatan itu bermanfaat bagi kaum yang beriman". (QS : Dzariyat : 55)

Ketiga. Membiasakan diri bersikap taat dan berlatih meredam keinginan jiwa sejak kecil.

Sabda Nabi Shallahu alaihi wassalam :

"Beruntunglah orang yang memegang kendali kudanya dalam melakukan jihad di jalan Allah. Walau kusut rambutnya dan kakinya berdebu, namun jika ia diberi tugas untuk menjaga, ia laksanakan dengan baik, dan jika ia diberi tugas untuk mengawal di belakang, maka ia laksanakan tugasnya dengan baik". (HR. Bukhari dan Ibnu Majjah).

Keempat. Perilaku seperti ini akan menolong seseorang untuk dapat membersihkan hati serta ambisinya dari keinginan menjadi pemimin, bahkan ia justru akan bersyukur kepada Allah jika tidak memperolehnya.

Kelima. Mengingat perjalan hidup para salafush shaleh dan sikap mereka terhadap kekuasaan dan jabatan.

Sesungguhnya perjalanan hidup mereka sarat dengan kewaspadaan dan akan senantiasa menjauhkan diri dari posisi kepemimpinan tersebut, karena tanggung jawab dan akibat-akibatnya. Diriwayatkan bahwa ketika Abu Bakar ra menerima jabatan sebagai khalifah, beliau berkhutbah dihadapan kaum mukminin.

"Wahai manusia, jika kalian mengira bahwa aku menjabat kedudukan khalifah ini karena ambisiku atau karena keinginanku untuk mengambil kepentingan pribadi atas kalian dan kaum muslimin, maka hal itu tidaklah benar. Demi zat yang jiwaku ada dalam kekuasaan-Nya, aku tidak menduduki jabatan ini karena ambisiku, dan sungguh bukan untuk mementingkan diri pribadi terhadap kalian dan kaum muslimin. Aku tidak menginginkannya sama sekali, dan aku tidak memohon kepada Allah terhadpa jabatan ini, baik secara rahasia atau secara terang-terangan. Aku sungguh telah memikul suatu masalah yang amat besar di mana aku tidak mampu memikulnya kecuali bila aku ditolong oleh Allah. Sesungguhnya aku ingin sekali jabatan kekhalifahan ini diserahkan kepada salah seorang shahabat Rasulullah shallahu alaihi wassalam, yang lain dengan keharusan berlaku adil, maka aku akan mengembalikannya kepada kalian, dan untukku tiak ada bai'at bagi kalian, serahkan lah jabatan ini kepada seorang yang kalian sukai, aku tidak lain hanyalah salah seorang dari kalian". (Kanz al-Ummaal, 'Alaauddiin al-Muttaqi, 5/615)

Ketika masa-masa akhir jabatan Umar ibnul Khatthab, ia menunjuk enam orang untu memusyawarahkan jabatan khalifah. Kemudian al-Mughirah bin Syu'bah mengusulkan kepada Umar ibnu Khtatthab agar anaknya (Abdullah bin Umar) yang menggantikan kedudukannya sebagai khalifah. Maka Umar marah dan menolak usulan itu dengan berkata:

"Celakalah engka! Demi Allah, aku tidak meminta kepada Allah akan hal ini. Aku tidak memiliki kecakapan apa-apa dalam mengurus masalah kalian, dan kau tidak mensyukurinya, sehingga aku ingin agar jabatan kekhalifahan diduduki oleh seorang dari keluargaku. Jika kursi kekhalifahan diduduki oleh seorang dari keluargaku. Jika kursi kekhalifahan ini adalah kebaikan, maka aku telah memperolehnya, dan jika hal ini suatu keburukan, maka cukuplah salah seorang dari keluarga Umar yang akan dihisab dan ditanya tentang permasalahan umat Muhammad Shallahu alaihi wassalam. Aku sudah berupaya semampuku dan telah mengharamkan keluargaku. Dan jika aku selamat dari siksa, tidak menanggung dosa, dan tanpa memperoleh pahala, maka hal itu sudah cukp membuatku senang". (Akhbaar Umar, at-Thanthawiyaan, hal 452).

Umar bin Abdul Aziz ketka dilantik menjadi khalifah, ia di datangi oleh seorang tentara pengawal untuk berjalan di hadapannya dengan sebilah tombak sebagaimana kebiasaan lyang berlaku bagi para khalifah sebelumnya. Maka Umar berkata kepada orang itu, "Ada urusan apa antara aku dan kamu? Menjauhlah dariku. Aku hanya seorang dari kaum muslimin". Kemudian ia berjalan bersama orang-orang samp;ai memasuki masjid. Ia menaiki mimbar dan orang-orang berkumpul dihadapannya. Lantas ia berkata :

"Wahai manusia, sesungguhnya aku telah diuji, karena urusan kekhalifahan ini tanpa pendapatku dalam hal tersebut, tanpa permintaanku, dan tanpa musyawarah dengan kaum muslimin. Sesungguhnya aku telah melepaskan bai'at kalian terhadapku, maka pilihlah orang lain untuk mengurus permasalahan kalian, yang kalian kehendaki".

Mendengar hal itu kaum muslimin berteriak dengan suara bulat, "Kami telah memilihmu untuk mengurus masalah kami, dan kami semua telah ridha denganmu..." (al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir, 9/212-213).

Keenam. Merenungi kedudukan dunia dari akhirat, sebagaimana yang dijelaskan dalam al-Qur'an dan dituturkan oleh Rasulullah shallahu alaihi wassalam.

Allah Ta'ala berfirman :

".. Katakanlah, Kenikmatan duniawi itu sangat sedikit, sedangkan akhrat itu lebih baik bagi siapa yang bertakwa ". (QS : An-Nisaa' : 77)

".. Padahal kenikmatan hidup dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit". (QS : At-Taubah : 38)

" .. Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diinginkan, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan disisi Allah lah tempat kembali yang baik (surga). (QS : al-Imran : 14)

Wallahu'alam.

Sumber : Eramuslim.com

Tuesday, January 31, 2012

Koleksi Artikel Islam Online

Artikel Islam adalah sebuah situs yang dirancang khusus untuk mempelajari Islam secara kaffah sesuai dengan dasar-dasar yang jelas guna mempersembahkan pemahaman yang baik tentang Islam. Artikel Islam menyediakan Koleksi Artikel Islam lengkap yang diberikan secara Online.


Situs ini berisikan konten Islami dan menitik beratkan pada keutamaan berbagi ilmu.Semoga bermanfaat untuk memahami Islam secara benar dengan mengharapkan ridho dari Allah Ta'ala, Amin Yaa Rabbal Alamin.

Tuesday, October 4, 2011

A Brief Fact File of Pakistan

Pakistan is a South Asian country, located just above the Tropic of Cancer. It shares borders with India (East), China (North-East), Afghanistan (North West) and Iran (West), while Arabian Sea (1046 km/650 mi) marks its Southern boundary.
Pakistan gained sovereignty from British India on August 14, 1947. Its inception has been credited to many people, eminent of who were: the great thinker and poet Iqbal, and the Jinnah (Quaid-e-Azam or The Great Leader). Creation of Pakistan saw one of the biggest migrations of history as millions of Muslims left India for the new born state.
Pakistan comprises of four provinces, namely Punjab, Sind, Baluchistan and Khyber-Pakhtunwa; a capital territory and federally administered tribal areas (FATA). Pakistan also exercises de facto authority over Gilgit-Baltistan and a part of Kashmir area. Pakistan is an Islamic Republic and has a Parliamentary style of government. The Government representatives (for the National and Provincial Assembly) are selected in a general election, who in turn selects the President (Head of State). Prime Minister is usually the leader of the largest political party in National Assembly. Provinces have an identical form of government as well. Pakistan is an active member of United Nations (UN), Organization of Islamic Conference (OIC), Commonwealth of Nations (CoN), South Asian Association for Regional Cooperation (SAARC), Economic Corporation Organization (ECO), Non-Aligned Movement (NAM), Developing-8 (D8), Group of 20 Developing Nations (G-20) and World Trade Organization (WTO). Pakistan is also a Major Non-NATO Ally (MNNA).
The culture of Pakistan is the result of amalgamation of centuries old Indus Valley civilization; rule of ancient empires; conquerors and warriors of west, including Aryans, Greeks etc and Islamic Revolution. Furthermore, all the four provinces have their own individuality and this all culminates to give a unique and exquisite, ethnically and linguistically diverse, identity to Pakistan. Urdu is the national language of Pakistan and English is the official one. Besides, other major lingos include Punjabi, Sindhi, Balochi and Pashto. An increasing trend has been to master foreign languages like Chinese, German, and Arabic etc.
This country has been blessed with a very diverse landscape and climate. Himalayas are in Northern part; Rivers and one of the world's most fertile agrarian lands in middle; beautiful desserts and a long coast line in South: all combine to make Pakistan a must-visit place. Weather and climate is quite varied as well. Pakistan enjoys all four seasons, year long.
Pakistan is situated at the crossroads of South Asia, the Middle East, and Central Asia. Its strategic position has also been cemented as landlocked Central Asian states use Pakistan as their economic survival corridor.
Despite having, an excellent base to prosper on, Pakistan still is a developing country. With a GDP of US$167 billions and a per capita income of US$ 2,942, Pakistan has the second largest economy in South Asia, and 48th largest in the world (27th is terms of purchasing power). High population (over 175 million and world's sixth-most populous country), high poverty (25% of total population), foreign debts (US$45 billion) and current economic recession have hindered the economic growth in recent years.

Download Acrobat Reader Free

Adobe Acrobat is a family of application software developed by Adobe Systems to view, create, manipulate, print and manage files in Portable Document Format (PDF). Adobe Reader enables users to view and print PDF files but has negligible PDF creation capabilities.

Version 10.0

Adobe Acrobat X (version 10.0) was released on November 15, 2010. Adobe Reader X is available for Windows, Mac OS, and Android. The latest version of Adobe Reader X is 10.0.2 for Android and 10.1.1 for Windows and Mac.

The default free PDF reader for most people is Acrobat Reader, anyone can download PDF files and browse them immediatly. But what if you are looking for a PDF writer, something to edit PDF files or make PDF ebooks? You search for PDF software download, looking for a free easy solution but can't find it, here it is Download Acrobat Reader Free?

Download Adobe Reader X (10.1.1) (64.69 MB)



Well, if you are using OpenOffice you don't need one, you can just export as PDF file, but if you are using another program your solution may be Adobe Acrobat that comes in 3 different versions: Adobe Acrobat 9 Standard, Pro or Pro Extended, depending on their collaboration and information exchange and sharing options for example. You can also create forms or collect data, combine multiple files, and so on.

Adobe Acrobat Software is an application which allows business professionals or home users to convert any of their Microsoft Office, Internet Explorer, or other electronic documents to a readable Portable Document Format (PDF) file. Adobe PDF files maintain the visual integrity of the documents so that these files can be viewed and printed on a variety of platforms using free Adobe's Acrobat Reader software.

The password protection feature of Adobe Acrobat software ensures that your Adobe PDF files are protected from unauthorized users from opening and viewing sensitive documents. With digital signature support, Adobe Acrobat software lets its users to approve final documents, verify the documents authenticity, and create a list of trusted certificates.

Adobe Acrobat Reader Software Version 9.0 boasts better performance with extended device compatibility, faster loading, better zooming, and improved application support for documents attached to Adobe PDF files. The newly added feature of Adobe Acrobat software include new multimedia document creation, document security, forms authoring, usage rights, and management and print production options.

Resuming, Adobe's solutions are the mainstream tools and those most used for all PDF needs. There are alternative solutions, and even free PDF writer applications like CutePDF Writer, PDF995, PrimoPDF, TinyPDF, Bullzip PDF Writer, PDFCreator, Ghostscript, but the software from Adobe is still the most known.

Some Tips on Editing a PDF File

PDF is invented by Adobe system for reviewing and utilizing rich information. PDF or Portable Document File which is developed by Adobe systems is used for sharing and printing documents easily on the Internet. Each file may contain hyperlinks, packing text, graphics and fonts. The original layout of the file is retained if it is converted to PDF. The extension of a file is always .pdf. This is a much secured form of sharing, managing, creating, or viewing information on the net.

Since PDF is an open file format specification, anyone can develop software utilities. Adobe gives the reader free access to read the content of PDF files. But it is not easy to edit a pdf file as we edit a word document, therefore to edit a file one can use the following methods:

Online editors: There are plenty of multi-lingual conversion software available online. This converter software has the ability to convert the software from PDF to .doc or .rtf files. Then, edit the file in your browser with the online software. This is not advisable for confidential documents because you have to upload your file to an unknown server.

Freeware PDF editors: Editing a pdf file is also possible with the help of free software available on the net. But you have limitations like size of the file and utilities on this free software. Hence choose the software which fulfills your requirements.

Commercial software: If you are sure to use conversion software regularly, you can purchase the software which is uniquely made for editing pdf file. Infix and Adobe reader Acrobat are some examples for this type of conversion software.

Thursday, August 11, 2011

Surah An-Nas

Sūrat Al-Nās (Arabic: سورة الناس‎), or Mankind, is the 114th and last sura, or chapter, of the Qur'an, the Muslim holy book. It is a short six-verse invocation, asking Allah for protection from the Satan. It is a Makkan sura. Together with sura Al-Falaq it is also known as Al-Mu'awwidhatayn; dealing with roughly the same theme, they form a natural pair. There is a Sunnah tradition of reading this Sura over the sick or before sleeping.



Download Links Al-Qur'an Recitation 30 Juz by K.H. Muammar ZA





Please Download here Al-Qur'an Recitation by K.H. Muammar ZA All Ayat Surah An-Nas



Attention: Buy the original cassette and CD for he still works





Virtues of Surah An-Nas



Aisha explains: that theProphet s.a.w. on each night when going to bed, he read the Surah Al-Ikhlas, Surah Al-Falaq and Surah An-Nas, blown on the palms and then spread over the entire body and head.



Sayyidiah 'Ali r.a. explain: never Messenger s.a.w. bitten upon a time, then he took the salt water. Recited Surah Al-Falaq and Surah An-Nas laludisapukan on the limb that was bitten at the time.



'Uqbah ibn' Amir explained, when I lost the road preformance on a journey together with the Messenger of Allah, he read the Surah Al-Falaq and Surah An-Nas and I was told he also to read it.



Whoever hit by the disease, because of the devil or man, should read Surah Al-Falaq and Surah An-Nas as much as 41 times over 3 days, 5 days or 7 days berturuh succession.



Anyone who fear the temptation of the devil or man or fear of the dark night, or fear of human evil, read Surah Al-Falaq and Surah An-Nas 100 times.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More